Memetik Penghasilan di Balik Ulasan Produk

Sewaktu membeli laptop murah meriah kemarin, gue sebelumnya cari-cari info dulu di Google. Mulai dari harga, spesifikasi, dan ulasannya. Kalau tanya-tanya abang atau mbak di toko bisa aja sih, tapi rasanya kurang sreg karena kan mereka yang jualan. Jadi gue butuh pegangan yang agak objektif dari orang-orang di luar sana yang seperti gue. Harapannya adalah bisa mendapat laptop terbaik yang cocok dengan kebutuhan dengan harga yang masih masuk anggaran.

Kasus gue kurang lebih terjadi pada setiap orang untuk pembelian yang berbeda-beda. Keputusan pembelian seringkali dilatar belakangi oleh pengalaman orang lain memakai produk tersebut. Menurut penelitian terbaru, sebanyak 70% online consumer di seluruh dunia meniliti ulasan produk sebelum membeli. Oleh karena itu, ga heran kan product review bertebaran dimana-mana. Mulai dari Instagram, Youtube, blog, dan media komunikasi.

Kalau lo juga memiliki suatu kesenangan terhadap suatu topik, lo juga bisa coba-coba memulai untuk mengulas produk. Gue sarankan apabila baru memulai, ulasan produk menggunakan media blog atau Instagram agar lo bisa menekankan pada konten. Apabila menggunakan Youtube, maka perlu ada produk fisiknya. Sebenernya bagus kalau lo sudah banyak memiliki berbagai macam produk yang sesuai dengan topik, itu akan memperkuat otoritas ulasan yang lo buat. Tapi seringkali kita juga belum punya, sehingga kalau blog dan Instagram tinggal foto barangnya. Dengan cara ini, maka tidak perlu dana yang besar di awal. Cuma butuh waktu dan keinginan bekerja saja karena konten yang lo wajib menghasilkan konten yang berguna. Berikut langkah-langkah melakukan produk review dengan tulisan:

A. Tentukan Niche

Topik yang terfokus pada suatu payung cerita tertentu akan lebih menarik para pembaca karena mereka akan merasa tergetar dan bertanya-tanya kok bisa ya satu blog isinya sesuai banget dengan kondisi dia saat itu. Dengan niche, harapannya pembaca akan merasakan suatu pengalaman dipahami dan diberikan berbagai macam solusi yang sesuai dengan masalah yang sedang dia hadapi. Sehingga pembaca juga dengan senang hati membagikan pengalamannya pada orang-orang yang senasib dengan dia.

Cara menentukan niche sendiri adalah dengan menggunakan jurus outside-in. Karena namanya juga kita cari uang dengan cara yang ga canggih ya bok, jadi kita utamakan saja para pembaca kita butuhnya apa.

  1. Reka-reka profile pembaca lo akan seperti apa. Rentang usia, jenis kelamin, penghasilan, tinggal dimana, pekerjaan mereka. Dan apa yang menjadi pertimbangan mereka dalam menggunakan solusi lo. Apakah mereka ingin mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan kegemaran mereka terhadap sesuatu? Ataukah mereka memiliki masalah dalam fase hidup mereka yang sekarang? Misalnya baru berkeluarga, jadi butuh tahu cara mengelola keuangan.
  2. Reka-reka untuk profile pembaca yang sudah lo tetapkan, apa saja hal-hal yang memenuhi otak mereka? Bagaimana lo bisa menjadi yang pertama yang ada dalam pikiran mereka saat bangun tidur? Ataukah mungkin lo bisa menegaskan dan mengartikulasikan suatu kondisi yang selama ini mereka ga sadari secara eksplisit tapi sebenarnya mereka rasakan?
  3. Apa wawasan lo yang bisa membantu kondisi di atas? Bagaimana solusi lo bisa menjadi sekeping puzzle yang cocok dengan pikiran-pikiran yang selama ini mereka punya?
  4. Rapikan konsep lo dengan mengetahui kelemahan lo dalam hal tersebut. Lo akan lebih banyak bermain di lahan yang lebih lo kuasai.
  5. Nah, sekarang periksa niche yang sudah dipilih. Agak canggihan pakai teknologi nih sekarang. Lo bisa pakai Google Trend dan Facebook Audience Insights. Di tahap ini, kita mau mengkuantifikasi secara kasar ukuran niche yang kita pilih. Jadi inginnya adalah niche tapi ukurannya cukup besar untuk mendongkrak traffic.
  6. Cari tahu kira-kira kompetitornya siapa aja dan bagaimana lo bisa lebih diingat oleh para pembaca dengan menawarkan sesuatu yang berbeda.

Tahap perencanaan ini terpenting dari hal-hal penting lainnya yang akan lo lakukan ke depan. Bolak balik dari langkah 6 ke 1 adalah biasa. Akan selalu ada penyesuaian pastinya ke depan, tapi fondasinya sendiri harus kuat. Gue sendiri sedang mempraktekan ini untuk project pribadi terbaru, nanti akan gue ceritakan kalau hasilnya sudah ada.

B. Persiapkan Antarmuka

Mau blog, Instagram, Youtube, atau lainnya silahkan bebas. Masing-masing ada pro kontra seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Sedangkan untuk blog butuh:

  1. Domain.
  2. Hosting.
  3. Content Management System misalnya WordPress.

Kalau lo memutuskan untuk blog, hal yang harus diutamakan adalah security karena sekali terserang malware, produktivitas jadi turun banget. Website gue pernah dalam seminggu mati 3 kali gara-gara malware ganas dari hacker-hacker yang bikin kzl. Hingga akhirnya gue pakai security system yang canggihan tapi tetap terjangkau. Analogi security ini seperti imunitas tubuh. Kalau lo sakit, lo ga bisa kerja kan? Walaupun kalau udah kena, lo bisa tau mana aja yang perlu diperbaiki.

Yang kedua adalah mobile interface. Sekarang kebanyakan orang buka dari mobile jadi pastikan antarmuka nya sesuai untuk mobile.

C. Sediakan Konten

Di jaman konten yang berserakan seperti sekarang, pembaca lo butuh konten yang spesial untuk mereka. Lo bisa membuatnya sendiri atau mengkurasi konten yang sudah ada. Yang penting adalah imbasnya, yaitu secara fungsional mereka mendapatkan solusi, dan secara sadar tidak sadar mereka mendapatkan pengalaman yang tiada duanya. Untuk memberikan pengalaman yang baik dan berbeda, berikut yang harus diperhatikan,

  1. Relevansi. Seperti yang sudah disebutkan, ini prasyarat utama. Konten harus nyambung dengan situasi dan motif pembacanya.
  2. Persona. Kalau diibaratkan seperti manusia, lo tuh seperti apa orangnya. Lo perlu memancarkan persona yang membekas di benak-benak pembaca lo. Persona tersebut sebisa mungkin bisa diakses oleh para pembaca, maksudnya tidak ada jurang sehingga mereka merasa nyaman. Misalnya kalau pembaca lo modern, lo ga bisa bersikap tradisional.
  3. Bahasa. Akses dan keterhubungan sangat didukung oleh bahasa. Lo butuh traffic yang sehat dan berkelanjutan, sehingga lo butuh terhubung secara baik dengan para pembaca. Gaya bahasa dan pemilihan kosakata akan sangat menentukan hubungan lo dengan pembaca.
  4. Antarmuka. Ini pasti penting ya, karena kalau website ga responsif dan ga user-friendly, maka pembaca akan malas.

D. Undang Traffic

Apapun platform yang dipakai, butuh pengunjung untuk menghasilkan. Di awal, apabila kita tidak punya modal untuk beriklan, maka uang diganti dengan waktu dan tenaga. Infokan pada lingkaran sosial lo tentang ulasan yang sudah dibuat dengan cara yang tidak mengganggu misal lewat sosial media. Ikut aktif di forum juga akan membantu mengarahkan orang yang tidak dikenal menjadi pembaca kita. Sebisa mungkin, ketahui dimana pembicaraan tentang topik yang diangkat sedang berlangsung, lalu ikut berkecimplung disitu. Detailnya kita bahas nanti ya.

E. Monetesasi

Ujung-ujungnya duit dengan cara memberi solusi yang bermanfaat pada orang lain adalah keren karena rasanya seperti double impact. Cara memonetesasinya adalah dengan referral program dan iklan. Dengan referral program, marketplace atau penyedia produk akan memberikan komisi pada kita untuk setiap produk yang terjual lewat link unik yang kita sebarkan. Cara ini tidak akan menimbulkan imbas apa-apa bagi pembaca, justru mempermudah mereka melihat produk yang mungkin mereka butuhkan. Iklan sebenarnya akan membuat antarmuka menjadi kurang nyaman sehingga butuh diperhatikan batasannya. Berikut referral program yang sudah cukup matang di Indonesia.

  1. Lazada.
  2. Blibli.
  3. Bukalapak.

Evaluasi semua proses secara berkala ya, lebih baik lagi apabila bisa mendapatkan feedback dari pembaca kita. Ok deh, segitu dulu aja ya. Bahasan mendetail kita bahas nanti pada kesempatan-kesempatan berikutnya.

1 thought on “Memetik Penghasilan di Balik Ulasan Produk

Leave a Comment

%d bloggers like this: