Kenapa Harus Punya Tujuan Keuangan?

Terasa ga, ketika baca postingan tentang membuat tujuan keuangan itu membuat males atau skeptis? Rasanya situasi saat ini sulit diubah karena mungkin faktor lingkungan tidak mendukung atau bisa faktor-faktor lainnya.

Sebenarnya resep mengatur keuangan milik sendiri itu kira-kira 60% psikologi sedangkan 40% nya adalah matematika dan akal sehat, atau mungkin porsi psikologinya lebih banyak ya? Beda kalau dengan keuangan di perusahaan atau instrumen keuangan yang rumusnya jelimet. Lo akan lebih membutuhkan kemampuan untuk mengenal diri sendiri ketika mengatur keuangan pribadi. Hal yang butuh diperiksa adalah bagaimana cara lo memandang uang. Apakah uang merupakan alat untuk mencapai keinginan dan impian? Atau uang adalah tujuan? Bentuk hubungan lo dengan uang akan menentukan bagaimana cara lo memperlakukan uang.

Dalam rangka hidup maksimal, kita perlu menjadikan uang sebagai alat untuk mencapai keinginan. Nah yang jadi pertanyaan, apakah lo tau persis apa yang lo inginkan dalam hidup ini? Nilai-nilai yang lo hargai? Eh yuk, kita coba simulasikan ngobrol dengan diri sendiri. Coba tanyakan poin-poin berikut ini pada diri lo, lebih baik lagi kalau dicatat di kertas biar bisa corat-coret. Ini butuh waktu dan ketenangan sehingga ga buru-buru isinya.

  • Sebenernya hal yang menurut gue paling berharga di dunia ini apa sih? Apakah karir, memaksimalkan potensi gue, atau keluarga? Atau apa ya?
    • Tulis di kertas semua yang penting. Berikan tanda mana 3 yang paling penting. Biasanya yang ditulis pertama kali adalah yang paling penting.
  • Apa yang bagi orang lain berharga tapi buat gue kurang berharga?
    • Contohnya: Yolanda kayanya ngebet banget beli rumah, tapi buat gue bisa jadi digital nomad itu lebih penting.
    • Ini dilakukan untuk membuat motivasi lo lebih jelas, merincikan apa yang bukan lo.
  • Kenapa buat gue A, B, C itu penting dan D, E, F itu ga penting?
    • Ini membuat lo lebih bisa memahami motivasi, sikon, dan latar belakang lo dalam memandang hidup.
    • Ini juga membuat lo lebih mengenal orang lain, kenapa kalian bisa berbeda. Sehingga lo ga ada dorongan untuk menyamakan diri dengan orang lain karena memang sesederhana situasi kalian berbeda.
  • Kalau gw menang lotere, kira-kira gw bakal ngapain aja ya?
    • Coba ngelamun sebentar…
    • Ngelamun lebih lama lagi juga ga apa-apa…
    • Yakin udahan ngayalnya?
    • Ngayal gratis lohh
    • Ya kalau udah, gini gue jelaskan. Kalau jawaban lo disini dengan poin yang pertama beda, lo butuh memperjelas lagi deh sebenernya yang paling berharga buat lo itu apa?
  • Sekarang coba bayangkan, menurut lo saat ini kehidupan lo udah sesuai dengan nilai-nilai yang lo anggap berharga belum?
  • Kalau belum, akan seperti apa hidup lo ketika lo mengambil keputusan untuk menghidupkan nilai-nilai yang berharga buat lo?

Ok, kita lanjutkan dengan mengenal kecenderungan-kecenderungan lo ya sekarang. Sadar ga sadar, kita yang saat ini adalah produk keputusan kita di masa lalu. Misalnya lingkungan kita dibesarkan, nilai dan norma yang diajarkan, tempat asal kita. Itu semua membangun cara pandang kita terhadap banyak hal, memicu pemilihan keputusan yang kita ambil sebagai respon terhadap sesuatu, yang pada akhirnya membentuk kita seperti saat ini. Apabila kita memiliki rasa kekecewaan pada diri kita saat ini dalam beberapa sisi, bukan berarti kita harus menyalahkan masa lalu kita. No, itu bukan tindakan yang dewasa dan bertanggung jawab. Tapi, kita harus mengenali kenapa kita bisa seperti itu untuk kemudian kita respon, apakah kita akan memperbaikinya atau menerimanya ketika memang hal tersebut tidak merugikan orang banyak. Mengenali adanya masalah dan mengakuinya adalah langkah awal memecahkan masalah tersebut.

  • Dulu orang yang membesarkan gue berada atau kekurangan ya? Mereka suka menabung atau menghabiskan uang?
    • Bagaimana cara mereka memperlakukan uang memberikan pengaruh terhadap gue?
    • Apa yang gue rasakan saat itu?
  • Apa yang mereka ajarkan terhadap gue tentang uang, menabung, hidup hemat, dan berinvestasi?
  • Apa yang gue rasakan ketika bertemu dengan orang yang memakai barang mewah (rumah, tas, mobil)?
  • Ketika gue punya uang, gue akan membeli…
    • 1 celana branded karena merek itu penting.
    • 1 celana dan 1 baju berkualitas tinggi.
    • Banyak celana dan baju karena lebih penting jumlah dibanding kualitas.
  • Gue ini cenderung mengambil resiko atau main aman ya?

Nah sekarang lo udah lebih mengenal diri sendiri kan ya. Ok lanjutkan ya. Sekarang refleksi berikut ini akan berkaitan banget dengan tujuan keuangan yang ada di postingan sebelumnya.

  • Apa yang gue butuhkan, berapa yang harus gue hasilkan untuk memenuhinya?
  • Apa yang gue inginkan dalam hidup ini, secara materi maupun bukan materi? (keinginan berbeda dengan kebutuhan). Mimpi bebas dan gratis, rinci semua yang lo inginkan.
  • Apa yang gue butuhkan untuk memperoleh 5 hal yang paling gue inginkan?
    • Berapa uang yang gue butuhkan? Berapa lama waktu yang gue butuhkan? Apakah gue butuh mempekerjakan orang lain? Bagaimana cara gue mendapatkan apa yang gue butuhkan?
  • Apa peranan uang dalam usaha gue memperoleh keinginan-keinginan itu?
    • Kalau keinginan lo barang, maka perhitungannya mudah ya.
    • Kalau keinginan lo bukan barang, misalnya menjadi digital nomad, uang saja tidak akan cukup tapi tetap akan beguna. Nah identifikasi ya bagaimana uang bisa memperoleh semua itu.
  • Kira-kira langkah apa yang bisa membuat gue lebih dekat pada hal yang gue inginkan? Sudah gue terapkan belum ke dalam kehidupan sehari-hari? Sudah rutin belum?
  • Ketika dihadapkan pilihan, apakah ada hal yang gue bisa tukarkan untuk mencapai keinginan gue?
    • Seringkali kita ga bisa memiliki semuanya, seberapapun kita menginginkannya. Ada batasan yang membuat kita perlu berkompromi dalam meraih yang kita inginkan. Misalnya, sulit untuk punya waktu banyak dan uang banyak. Biasanya orang punya waktu banyak dan uang sedikit; atau waktu sedikit dan uang banyak.

Lelah ya mengenal diri sendiri. Perjalanan panjang. Tapi mengenali perasaan kita ketika berefleksi, suka duka yang kita rasakan, akan membuat kita lebih objektif dalam melihat diri kita sendiri, orang lain, dan kehidupan yang kita jalani. Satu hal yang butuh lo ingat adalah, perbedaan yang dimiliki antara lo dan orang lain itu adalah sesuatu yang perlu dihargai karena itu membuat kehidupan lo lebih dinamis. Ketika kita berbeda, bukan berarti gue harus menyamakan diri gue terhadap lo atau sebaliknya. Mungkin kita bisa berkompromi ketemu di tengah atau saling melengkapi satu sama lain. Sehingga, perasaan yang muncul akan seringkali positif. Dan lo pun lebih percaya diri dalam membuat tujuan hidup dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Cheers!

Sumber: langkah-langkah refleksi oleh David Weliver dan berbagai sumber lainnya.

Leave a Comment

%d bloggers like this: